1.
Teori Abiogenesis
Paham atau teori abiogenesis ini disebut juga paham Generation Spontaneae. Para ilmuwan pendukung paham abiogenesis menyatakan bahwa makhluk hidup yang pertama kali di bumi tersebut dari benda mati / tak hidup yang terkjadinya secara spontan, misalnya :
a. Ikan dan katak berasal dari lumpur.
b. Cacing berasal dari tanah, dan
c. Belatung berasal dari daging yang membusuk.
Tokoh paham abiogenesis adalah seorang filosif Yunani bernama Aristoteles (384-322 SM). Sebenarnya Aristoteles mengetahui bahwa telur-telur ikan apabila menetas akan menjadi ikan yang sifatnya sama seperti induknya. Telur-telur tersebut merupakan hasil perkawinan dari induk-induk ikan. Walau demikian, Aristoteles berkeyakinan bahwa ada ikan yang berasal dari Lumpur.
Paham atau teori abiogenesis ini disebut juga paham Generation Spontaneae. Para ilmuwan pendukung paham abiogenesis menyatakan bahwa makhluk hidup yang pertama kali di bumi tersebut dari benda mati / tak hidup yang terkjadinya secara spontan, misalnya :
a. Ikan dan katak berasal dari lumpur.
b. Cacing berasal dari tanah, dan
c. Belatung berasal dari daging yang membusuk.
Tokoh paham abiogenesis adalah seorang filosif Yunani bernama Aristoteles (384-322 SM). Sebenarnya Aristoteles mengetahui bahwa telur-telur ikan apabila menetas akan menjadi ikan yang sifatnya sama seperti induknya. Telur-telur tersebut merupakan hasil perkawinan dari induk-induk ikan. Walau demikian, Aristoteles berkeyakinan bahwa ada ikan yang berasal dari Lumpur.

Seorang
ahli ilmu pengetahuan alam berkebangsaan Belanda bernama Antonie van Leeuwnhoek
( 1632-1723 ) , dengan mikrosop buatannya berjasil menemukan jasad renik yangn
sifatnya hidup dan bergerak-gerak dari setets air rendaman jerami. Hasil
pengamatan ini mengingatkan kembali pada pandangan generation spontan
(abiogenesis) yang dikemukakan oleh Aristoteles ( 384-322 SM ). Akan tetapi,
sebagian orang masih meragukan kebenarannya.
2. Teori Biogenesis
Paham ke dua yang tidak menyetujui teori Abiogenesis dengan meyakinkan bahwa Mahkluk hidup dipastikan berasal dari mahkluk hidup.
Dikemukakan oleh: Francesco Redi, Lazzaro Spallanzani , Louis Pasteur
1. Francesco Redi (Italia, 1626-1697)
Redi menentang teori abiogenesis dengan melakukan percobaan menggunakan bahan daging.
Langkah Percobaan
2. Teori Biogenesis
Paham ke dua yang tidak menyetujui teori Abiogenesis dengan meyakinkan bahwa Mahkluk hidup dipastikan berasal dari mahkluk hidup.
Dikemukakan oleh: Francesco Redi, Lazzaro Spallanzani , Louis Pasteur
1. Francesco Redi (Italia, 1626-1697)
Redi menentang teori abiogenesis dengan melakukan percobaan menggunakan bahan daging.
Langkah Percobaan
Toples
1 diisi daging dibiarkan terbuka
Toples 2 diisi daging dan ditutup kain kasa.
Toples 3 diiisi daging dan ditutup rapat
Ketiga toples ini dibiarkan beberapa hari.
HASIL PERCOBAAN
• Stoples I : daging membusuk dan didalamnya ditemukan banyak larva belatung
• Stoples II : daging tampak membusuk dan didalamnya ditemukan larva belatung .
.Stoples III : daging tidak busuk dan pada daging ini tidak ditemukan larva belatung lalat
ANALISA DATA
Berdasarkan hasil percobaan tersebut, disiimpulkan bahwa larva atau belatung yang terdapat dalam daging busuk di stoples I dan II bukan terbentuk dari daging yang membusuk, tetapi berasal dari telur lalat yang ditinggal pada daging ini ketika lalat tersebut hinggap disitu. Hal ini akan lebih jelas lagi, apabila melihat keadaan pada stoples II, yang tertutup kain kasa. Pada kain kasa penutupnya ditemukan lebih banyak belatung, tetapi pada dagingnya yang membusuk belatung relative sedikit.sedang pada Stoples III tidak ada perubahan daging menjadi belatung ketika tak ada kontaminasi dengan Lalat .
KESIMPULAN
Dari hasil percobaan ini ia mengambil kesimpulan sebagai berikut :
• Larva (kehidupan) bukan berasal dari daging yang membusuk tetapi berasal dari lalat yang dapat masuk ke dalam tabung dan bertelur pada keratan daging.
2. Lazzaro Spallanzani (Italia, 1729-1799)
Spallanzani menentang pendapat John Needham (penganut paham abiogenesis), menurutnya kehidupan yang terjadi pada air kaldu disebabkan oleh pemanasan yang tidak sempurna.
dia mengadakan percobaan yang pada prinsipnya sama dengan percobaan Francesco Redi, tetapi langkah percobaan Spallanzani lebih sempurna.
Sebagai bahan percobaannya, Spallanzani menggunakan air kaldu atau air rebusan daging dan dua buah labu.
LANGKAH KERJA
1. Labu I : diisi air 70 cc air kaldu, kemudian dipanaskan 15oC selama beberapa menit dan dibiarkan tetap terbuka.
2. Labu II : diisi 70 cc air kaldu, ditutup rapat-rapat dengan sumbat gabus. Pada daerah pertemuan antara gabus dengan mulut labu diolesi paraffin cair agar rapat benar.
3. Kedua labu diletakkan pada tempat terbuka yang bebas dari gangguan hewan dan orang
4. Setelah lebih kurang satu minggu, diadakan pengamatan terhadap keadaan air kaldu pada kedua labu tersebut.
HASIL PERCOBAAN
Labu I : air kaldu mengalami perubahan, yaitu airnya menjadi bertambah keruh dan baunya menjadi tidak enak. Setelah diteliti ternyata air kaldu pada labu I ini banyak mengandung mikroba.
Labu II : air kaldu labu ini tidak mengalami perubahan, artinya tetap jernih seperti semula, baunya juga tetap serta tidak mengandung mikroba.
Apabila labu ini dibiarkan terbuka lebih lama lagi, ternyata juga banyak mengandung mikroba, airnya berubah menjadi lebih keruh serta baunya tidak enak (busuk).
ANALISA DATA
Berdasarkan hasil percobaan tersebut mikroba yang ada didalam kaldu tersebut bukan berasal dari air kaldu (benda mati), tetapi berasal dari kehidupan diudara. Jadi, adanya pembusukan karena telah terjadi kontaminasi SPORA mikroba dari udara ke dalam air kaldu tersebut.
Udara adalah sumber kontaminasi paling besar karena di udaralah banyak spora spora bakteri yang spora itu masuk ke kaldu yang penuh nutrisi dan sangat sesuai maka spora pecah membentuk bakteri sehingga kaldu jadi keruh, pada tabung tertutup terbukti kaldu tetapjernih tanpa bakteri
KESIMPULAN
Pada tabung terbuka terdapat kehidupan berasal dari udara, pada tabung tertutup tidak terdapat kehidupan, hal ini membuktikan bahwa kehidupan bukan dari air kaldu yang mati –(BIOGENESIS).
Pendukung paham Abiogenesis menyatakan keberatan terhadap hasil eksperimen Lazzaro Spallanzani dan Redi tersebut.
Menurut mereka untuk terbentuknya mikroba (makhluk hidup) dalam air kaldu diperlukan udara. Dengan pengaruh udara SEBAGAI GAYA HIDUP terjadilah generation spontanea kaldu sebagai benda yang terlihat jelas pada tabung dan stoples yang terbukamati menjadi hidup .
3. Louis Pasteur (Perancis, 1822-1895)
Louis Pasteur melakukan percobaan yang menyempurnakan percobaan Spalanzani dan Redi.
Pasteur mlakukan percobaan menggunakan labu yang penutupnya berupa tabung yang menyerupai leher angsa,
Tujuannya untuk membuktikan bahwa mikroorganisme terdapat di udara sebagai spora bakteri yang membuat kaldu menjadi keruh. Dan Udara diyakini oleh paham pengikut abiogenesis sebagai gaya hidup yang mengubah kaldu sebagai benda mati menjadi mahkluk hidup (bakteri).
Dalam menjawab keraguannya terhadap paham abiogenesis. Pasteur melaksanakan percobaan menyertakan udara sebagai gaya hidup untuk menyempurnakan percobaan Lazzaro Spallanzani dan redi yang tertutup sehingga tak ada perubahan (stoples 3 dan Tabung2).
Dalam percobaanya, Pasteur menggunakan bahan air kaldu yang sama dengan bahan yang digunakan Spalanzani.
Toples 2 diisi daging dan ditutup kain kasa.
Toples 3 diiisi daging dan ditutup rapat
Ketiga toples ini dibiarkan beberapa hari.
HASIL PERCOBAAN
• Stoples I : daging membusuk dan didalamnya ditemukan banyak larva belatung
• Stoples II : daging tampak membusuk dan didalamnya ditemukan larva belatung .
.Stoples III : daging tidak busuk dan pada daging ini tidak ditemukan larva belatung lalat
ANALISA DATA
Berdasarkan hasil percobaan tersebut, disiimpulkan bahwa larva atau belatung yang terdapat dalam daging busuk di stoples I dan II bukan terbentuk dari daging yang membusuk, tetapi berasal dari telur lalat yang ditinggal pada daging ini ketika lalat tersebut hinggap disitu. Hal ini akan lebih jelas lagi, apabila melihat keadaan pada stoples II, yang tertutup kain kasa. Pada kain kasa penutupnya ditemukan lebih banyak belatung, tetapi pada dagingnya yang membusuk belatung relative sedikit.sedang pada Stoples III tidak ada perubahan daging menjadi belatung ketika tak ada kontaminasi dengan Lalat .
KESIMPULAN
Dari hasil percobaan ini ia mengambil kesimpulan sebagai berikut :
• Larva (kehidupan) bukan berasal dari daging yang membusuk tetapi berasal dari lalat yang dapat masuk ke dalam tabung dan bertelur pada keratan daging.
2. Lazzaro Spallanzani (Italia, 1729-1799)
Spallanzani menentang pendapat John Needham (penganut paham abiogenesis), menurutnya kehidupan yang terjadi pada air kaldu disebabkan oleh pemanasan yang tidak sempurna.
dia mengadakan percobaan yang pada prinsipnya sama dengan percobaan Francesco Redi, tetapi langkah percobaan Spallanzani lebih sempurna.
Sebagai bahan percobaannya, Spallanzani menggunakan air kaldu atau air rebusan daging dan dua buah labu.
LANGKAH KERJA
1. Labu I : diisi air 70 cc air kaldu, kemudian dipanaskan 15oC selama beberapa menit dan dibiarkan tetap terbuka.
2. Labu II : diisi 70 cc air kaldu, ditutup rapat-rapat dengan sumbat gabus. Pada daerah pertemuan antara gabus dengan mulut labu diolesi paraffin cair agar rapat benar.
3. Kedua labu diletakkan pada tempat terbuka yang bebas dari gangguan hewan dan orang
4. Setelah lebih kurang satu minggu, diadakan pengamatan terhadap keadaan air kaldu pada kedua labu tersebut.
HASIL PERCOBAAN
Labu I : air kaldu mengalami perubahan, yaitu airnya menjadi bertambah keruh dan baunya menjadi tidak enak. Setelah diteliti ternyata air kaldu pada labu I ini banyak mengandung mikroba.
Labu II : air kaldu labu ini tidak mengalami perubahan, artinya tetap jernih seperti semula, baunya juga tetap serta tidak mengandung mikroba.
Apabila labu ini dibiarkan terbuka lebih lama lagi, ternyata juga banyak mengandung mikroba, airnya berubah menjadi lebih keruh serta baunya tidak enak (busuk).
ANALISA DATA
Berdasarkan hasil percobaan tersebut mikroba yang ada didalam kaldu tersebut bukan berasal dari air kaldu (benda mati), tetapi berasal dari kehidupan diudara. Jadi, adanya pembusukan karena telah terjadi kontaminasi SPORA mikroba dari udara ke dalam air kaldu tersebut.
Udara adalah sumber kontaminasi paling besar karena di udaralah banyak spora spora bakteri yang spora itu masuk ke kaldu yang penuh nutrisi dan sangat sesuai maka spora pecah membentuk bakteri sehingga kaldu jadi keruh, pada tabung tertutup terbukti kaldu tetapjernih tanpa bakteri
KESIMPULAN
Pada tabung terbuka terdapat kehidupan berasal dari udara, pada tabung tertutup tidak terdapat kehidupan, hal ini membuktikan bahwa kehidupan bukan dari air kaldu yang mati –(BIOGENESIS).
Pendukung paham Abiogenesis menyatakan keberatan terhadap hasil eksperimen Lazzaro Spallanzani dan Redi tersebut.
Menurut mereka untuk terbentuknya mikroba (makhluk hidup) dalam air kaldu diperlukan udara. Dengan pengaruh udara SEBAGAI GAYA HIDUP terjadilah generation spontanea kaldu sebagai benda yang terlihat jelas pada tabung dan stoples yang terbukamati menjadi hidup .
3. Louis Pasteur (Perancis, 1822-1895)
Louis Pasteur melakukan percobaan yang menyempurnakan percobaan Spalanzani dan Redi.
Pasteur mlakukan percobaan menggunakan labu yang penutupnya berupa tabung yang menyerupai leher angsa,
Tujuannya untuk membuktikan bahwa mikroorganisme terdapat di udara sebagai spora bakteri yang membuat kaldu menjadi keruh. Dan Udara diyakini oleh paham pengikut abiogenesis sebagai gaya hidup yang mengubah kaldu sebagai benda mati menjadi mahkluk hidup (bakteri).
Dalam menjawab keraguannya terhadap paham abiogenesis. Pasteur melaksanakan percobaan menyertakan udara sebagai gaya hidup untuk menyempurnakan percobaan Lazzaro Spallanzani dan redi yang tertutup sehingga tak ada perubahan (stoples 3 dan Tabung2).
Dalam percobaanya, Pasteur menggunakan bahan air kaldu yang sama dengan bahan yang digunakan Spalanzani.
LANGKAH
PERCOBAAN :
Langkah I : labu disi 70 cc air kaldu, kemudian ditutup rapat-rapat dengan gabus. Celah antara gabus dengan mulut labu diolesi dengan paraffin cair. Setelah itu pada gabus tersebut dipasang pipa kaca berbentuk leher angsa. Lalu, labu dipanaskan atau disterilkan.
• Langkah II : selanjutnya labu didinginkan dan diletakkan ditempat yang aman. Setelah beberapa hari, keadaan air kaldu diamati. Ternyata air kaldu tersebut tetep jernih dan tidak mengandung mikroorganisme.
Langkah III : labu yang air kaldu didalamnya tetap jernih dimiringkan sampai air kaldu didalamnya mengalir kepermukaan pipa hingga bersentuhan dengan udara. Setelah itu labu diletakkan kembali pada tempat yang aman selama beberapa hari. Kemudian keadaan air kaldu diamati lagi. Ternyata air kaldu didalam labu menjadi busuk dan banyak mengandung mikroorganisme.
Melalui pemanasan terhadap perangkat percobaanya, seluruh mikroorganisme yang terdapat dalam air kaldu akan mati. Disamping itu, akibat lain dari pemanasan adalah terbentuknya uap air pada pipa kaca berbentuk leher angsa. Apabila perangkat percobaan tersebut didinginkan, maka air pada pipa akan mengembun dan menutup lubang pipa tepat pada bagian yang berbentuk leher. Hal ini akan menyebabkan terhambatnya mikroorganisme yang bergentayangan diudara untuk masuk kedalam labu. Inilah yang menyebabkan tetap jernihnya air kaldu pada labu tadi.
Pada saat sebelum pemanasan, udara bebas tetap dapat berhubungan dengan ruangan dalam labu. Mikroorganisme yang masuk bersama udara akan mati pada saat pemanasan air kaldu.
Setelah labu dimiringkan hingga air kaldu sampai kepern\mukan pipa, air kaldu itu akan bersentuhan dengan udara bebas. Disini terjadilah kontaminasi mikroorganisme. Ketika labu dikembalikan keposisi semula (tegak), mikroorganisme tadi ikut terbawa masuk. Sehingga, setelah labu dibiarkan beberapa beberapa waktu air kaldu menjadi akeruh, karena adanya pembusukan oleh mikrooranisme tersebut. Dengan demikian terbuktilah ketidak benaran paham Abiogenesis atau generation spontanea, yangmenyatakan bahwa makhluk hidup berasal dari benda mati yang terjadi secara spontan.
Berdasarkan hasil percobaan Redi, Spallanzani, dan Pasteur tersebut, maka tumbanglah paham Abiogenesis, dan munculah paham/teori baru tentang asal usul makhluk hidup yang dikenal dengan teori Biogenesis. Teori itu menyatakan :
1. omne vivum ex ovo = setiap makkhluk hidup berasal dari telur.
2. Omne ovum ex vivo = setiap telur berasal dari makhluk hidup, dan
3. Omne vivum ex vivo = setiap makhluk hidup berasal dari makhluk hidup sebelumnya.
3. Teori Keadaan Mantap
Langkah I : labu disi 70 cc air kaldu, kemudian ditutup rapat-rapat dengan gabus. Celah antara gabus dengan mulut labu diolesi dengan paraffin cair. Setelah itu pada gabus tersebut dipasang pipa kaca berbentuk leher angsa. Lalu, labu dipanaskan atau disterilkan.
• Langkah II : selanjutnya labu didinginkan dan diletakkan ditempat yang aman. Setelah beberapa hari, keadaan air kaldu diamati. Ternyata air kaldu tersebut tetep jernih dan tidak mengandung mikroorganisme.
Langkah III : labu yang air kaldu didalamnya tetap jernih dimiringkan sampai air kaldu didalamnya mengalir kepermukaan pipa hingga bersentuhan dengan udara. Setelah itu labu diletakkan kembali pada tempat yang aman selama beberapa hari. Kemudian keadaan air kaldu diamati lagi. Ternyata air kaldu didalam labu menjadi busuk dan banyak mengandung mikroorganisme.
Melalui pemanasan terhadap perangkat percobaanya, seluruh mikroorganisme yang terdapat dalam air kaldu akan mati. Disamping itu, akibat lain dari pemanasan adalah terbentuknya uap air pada pipa kaca berbentuk leher angsa. Apabila perangkat percobaan tersebut didinginkan, maka air pada pipa akan mengembun dan menutup lubang pipa tepat pada bagian yang berbentuk leher. Hal ini akan menyebabkan terhambatnya mikroorganisme yang bergentayangan diudara untuk masuk kedalam labu. Inilah yang menyebabkan tetap jernihnya air kaldu pada labu tadi.
Pada saat sebelum pemanasan, udara bebas tetap dapat berhubungan dengan ruangan dalam labu. Mikroorganisme yang masuk bersama udara akan mati pada saat pemanasan air kaldu.
Setelah labu dimiringkan hingga air kaldu sampai kepern\mukan pipa, air kaldu itu akan bersentuhan dengan udara bebas. Disini terjadilah kontaminasi mikroorganisme. Ketika labu dikembalikan keposisi semula (tegak), mikroorganisme tadi ikut terbawa masuk. Sehingga, setelah labu dibiarkan beberapa beberapa waktu air kaldu menjadi akeruh, karena adanya pembusukan oleh mikrooranisme tersebut. Dengan demikian terbuktilah ketidak benaran paham Abiogenesis atau generation spontanea, yangmenyatakan bahwa makhluk hidup berasal dari benda mati yang terjadi secara spontan.
Berdasarkan hasil percobaan Redi, Spallanzani, dan Pasteur tersebut, maka tumbanglah paham Abiogenesis, dan munculah paham/teori baru tentang asal usul makhluk hidup yang dikenal dengan teori Biogenesis. Teori itu menyatakan :
1. omne vivum ex ovo = setiap makkhluk hidup berasal dari telur.
2. Omne ovum ex vivo = setiap telur berasal dari makhluk hidup, dan
3. Omne vivum ex vivo = setiap makhluk hidup berasal dari makhluk hidup sebelumnya.
3. Teori Keadaan Mantap
SEL
YANG MEMBELAH DIRI
Teori ini berpendapat alam jagad raya ini ada dengan sendirinya dan tidak berasal usul, serta akan tetap selalu ada. Filsafat materialis merupakan dasar dari teori ini. Materialisme bersandar pada anggapan bahwa segala sesuatu yang ada adalah materi. Menurut filsafat ini, materi telah ada semenjak keabadian, akan terus ada selamanya, dan tidak ada apapun selain materi. Untuk mendukung klaim mereka, para materialis menggunakan sebuah logika yang disebut "reduksionisme". Reduksionisme adalah gagasan bahwa benda yang tidak teramati seperti materi juga dapat dijelaskan dengan penyebab yang bersifat materi. Lalu bagaimana makhluk hidup pertama muncul di bumi. Teori ini menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan bahwa makhluk hidup pertama adalah sel tunggal yang terbentuk dengan sendirinya dari benda mati secara kebetulan. Menurut teori ini, pada saat bumi masih terdiri atas bebatuan, tanah, gas dan unsur lainnya, suatu organisme hidup terbentuk secara kebetulan akibat pengaruh angin, hujan dan halilintar. Tetapi, pernyataan evolusi ini bertentangan dengan salah satu prinsip paling mendasar biologi: Kehidupan hanya berasal dari kehidupan sebelumnya(teori biogenis), yang berarti benda mati tidak dapat memunculkan kehidupan. Pembentukan "secara kebetulan" sebuah sel hidup tidaklah mungkin terjadi, bahkan untuk membuatnya melalui proses yang disengaja di laboratorium tercanggih di dunia pun ternyata tidak mungkin.
4. Teori Evolusi Biokimia.
Teori ini dikemukakan oleh Harold Urey dan Alexander Oparin. Menurut Harold Urey ( 1893 ) ahli kimia Amerika , asal kehidupan yang pertama adalah reaksi-reaksi kimiawi yang menghasilkan asam amino pembentuk protein. Asam amino merupakan dasar pemebntukan setiap sel. Asam amino tersusun dari unsur Carbon, Hidrogen, Oksigen dan Nitrogen sebagai unsur utama. Di atmosfer banyak terdapat gas CH4(metan), , Nh3(amonia ), H2O(Oksigen) , dan H2(Hidrogen) yang jika terkena loncatan bunga api listrik dapat membentuk asam amino.
Teori ini berpendapat alam jagad raya ini ada dengan sendirinya dan tidak berasal usul, serta akan tetap selalu ada. Filsafat materialis merupakan dasar dari teori ini. Materialisme bersandar pada anggapan bahwa segala sesuatu yang ada adalah materi. Menurut filsafat ini, materi telah ada semenjak keabadian, akan terus ada selamanya, dan tidak ada apapun selain materi. Untuk mendukung klaim mereka, para materialis menggunakan sebuah logika yang disebut "reduksionisme". Reduksionisme adalah gagasan bahwa benda yang tidak teramati seperti materi juga dapat dijelaskan dengan penyebab yang bersifat materi. Lalu bagaimana makhluk hidup pertama muncul di bumi. Teori ini menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan bahwa makhluk hidup pertama adalah sel tunggal yang terbentuk dengan sendirinya dari benda mati secara kebetulan. Menurut teori ini, pada saat bumi masih terdiri atas bebatuan, tanah, gas dan unsur lainnya, suatu organisme hidup terbentuk secara kebetulan akibat pengaruh angin, hujan dan halilintar. Tetapi, pernyataan evolusi ini bertentangan dengan salah satu prinsip paling mendasar biologi: Kehidupan hanya berasal dari kehidupan sebelumnya(teori biogenis), yang berarti benda mati tidak dapat memunculkan kehidupan. Pembentukan "secara kebetulan" sebuah sel hidup tidaklah mungkin terjadi, bahkan untuk membuatnya melalui proses yang disengaja di laboratorium tercanggih di dunia pun ternyata tidak mungkin.
4. Teori Evolusi Biokimia.
Teori ini dikemukakan oleh Harold Urey dan Alexander Oparin. Menurut Harold Urey ( 1893 ) ahli kimia Amerika , asal kehidupan yang pertama adalah reaksi-reaksi kimiawi yang menghasilkan asam amino pembentuk protein. Asam amino merupakan dasar pemebntukan setiap sel. Asam amino tersusun dari unsur Carbon, Hidrogen, Oksigen dan Nitrogen sebagai unsur utama. Di atmosfer banyak terdapat gas CH4(metan), , Nh3(amonia ), H2O(Oksigen) , dan H2(Hidrogen) yang jika terkena loncatan bunga api listrik dapat membentuk asam amino.
Menurut
Alexander Oparin ( 1929 ) ahli biokimia Rusia mengemukakan, kehidupan pertama
terjadi di cekungan pantai dengan bahan-bahan timbunan senyawa organic dari
lautan. Timbunan senyawa organic ini disebut sop purba atau sop primordial. Di dalam atmosfer primitif
bumi akan timbul reaksi-reaksi yang menghasilkan senyawa organik dengan energi
pereaksi dari radiasi sinar ultra violet. Senyawa organik tersebut merupakan
“soppurba” tempat kehidupan dapat muncul. Senyawa organik akhirnya akan
membentuk timbunan gumpalan (koaservat). Timbunan gumpalan (koaservat) yang
kaya akan bahan-bahan organik membentuk timbunan jajaran molekul lipid
sepanjang perbatasan koaservat dengan media luar yang dianggap sebagai “selaput
sel primitif” yang memberi stabilitas pada koaservat.
Meskipun begitu Oparin tetap berpendapat amatlah sulit untuk nantinya koaservat yang sudah terbungkus dengan selaput sel primitif tadi akan dapat menghasilkan “organisme heterotrofik” yang dapat mereplikasikan dirinya dan mengambil nutrisi dari “sop purba” yang kaya akan bahan-bahan organik dan menjelaskan mekanisme transformasi dari molekul-molekul protein sebagai benda tak hidup ke benda hidup.Teori Urey dan Oparin kemudian didukung oleh Stanley Miller dari universitas Chicago .
Perlu diketahui bahwa Evolusi merupakan perkembangan mahluk hidup yang berlangsung secara perlahan-lahan dalam jangka waktu lama dari bentuk yang sederhana kearah bentuk yang kompleks. Setelah eksperimen Lois pateur dapat menumbangkan teori Teori Abiogenesis, timbul masalah baru, yaitu dimanakah unsur kehidupan itu pertama kali timbul. Banyak pihak yang berpendapat bahwa kehidupan muncul akibat dari reaksi-reaksi kimiawi yang diawali molekul berukuran kecil.
Ahli kimia Amerika, Stanley Miller dari universitas Chicago, melakukan suatu percobaan pada tahun 1953 untuk mendukung skenario evolusi molekuler. Miller beranggapan atmosfir bumi purba terdiri atas gas metana, amonia, dan hidrogen. Dia mencampurkan gas-gas ini dalam suatu rancangan percobaan dan mengalirkan arus listrik pada campuran tersebut. Sekitar seminggu kemudian, ia menemukan sejumlah asam amino terbentuk dalam campuran ini.
Penemuan ini membangkitkan kegembiraan luar biasa di kalangan para evolusionis. Dalam dua puluh tahun kemudian, beberapa evolusionis, seperti Sydney Fox dan Cyril Ponnamperuma, berusaha mengembangkan skenario Miller.
Meskipun begitu Oparin tetap berpendapat amatlah sulit untuk nantinya koaservat yang sudah terbungkus dengan selaput sel primitif tadi akan dapat menghasilkan “organisme heterotrofik” yang dapat mereplikasikan dirinya dan mengambil nutrisi dari “sop purba” yang kaya akan bahan-bahan organik dan menjelaskan mekanisme transformasi dari molekul-molekul protein sebagai benda tak hidup ke benda hidup.Teori Urey dan Oparin kemudian didukung oleh Stanley Miller dari universitas Chicago .
Perlu diketahui bahwa Evolusi merupakan perkembangan mahluk hidup yang berlangsung secara perlahan-lahan dalam jangka waktu lama dari bentuk yang sederhana kearah bentuk yang kompleks. Setelah eksperimen Lois pateur dapat menumbangkan teori Teori Abiogenesis, timbul masalah baru, yaitu dimanakah unsur kehidupan itu pertama kali timbul. Banyak pihak yang berpendapat bahwa kehidupan muncul akibat dari reaksi-reaksi kimiawi yang diawali molekul berukuran kecil.
Ahli kimia Amerika, Stanley Miller dari universitas Chicago, melakukan suatu percobaan pada tahun 1953 untuk mendukung skenario evolusi molekuler. Miller beranggapan atmosfir bumi purba terdiri atas gas metana, amonia, dan hidrogen. Dia mencampurkan gas-gas ini dalam suatu rancangan percobaan dan mengalirkan arus listrik pada campuran tersebut. Sekitar seminggu kemudian, ia menemukan sejumlah asam amino terbentuk dalam campuran ini.
Penemuan ini membangkitkan kegembiraan luar biasa di kalangan para evolusionis. Dalam dua puluh tahun kemudian, beberapa evolusionis, seperti Sydney Fox dan Cyril Ponnamperuma, berusaha mengembangkan skenario Miller.
PERCOBAAN
FOX YANG GAGAL
Terilhami oleh skenario Miller, para evolusionis melakukan percobaan yang berbeda di tahun-tahun setelahnya. Sydney Fox berhasil membuat molekul, sebagaimana terlihat pada gambar, yang ia sebut "proteinoid", dengan menggabungkan beberapa asam amino. Rantai asam amino tak berguna ini tidak ada kaitannya dengan protein sesungguhnya yang menyusun tubuh makhluk hidup. Pada kenyataannya, segala usaha ini tidak hanya menunjukkan kehidupan tidak mungkin terbentuk secara kebetulan, tetapi juga tidak dapat dihasilkan dalam kondisi laboratorium.
Terilhami oleh skenario Miller, para evolusionis melakukan percobaan yang berbeda di tahun-tahun setelahnya. Sydney Fox berhasil membuat molekul, sebagaimana terlihat pada gambar, yang ia sebut "proteinoid", dengan menggabungkan beberapa asam amino. Rantai asam amino tak berguna ini tidak ada kaitannya dengan protein sesungguhnya yang menyusun tubuh makhluk hidup. Pada kenyataannya, segala usaha ini tidak hanya menunjukkan kehidupan tidak mungkin terbentuk secara kebetulan, tetapi juga tidak dapat dihasilkan dalam kondisi laboratorium.
KEKELIRUAN
ATMOSFIR BUMI PURBA
Miller menyatakan ia telah berhasil meniru kondisi atmosfir bumi purba dalam percobaan-nya. Kenyataannya, udara yang digunakan Miller dalam percobaannya jauh berbeda dengan kondisi bumi purba yang sesungguh-nya. Lebih dari itu, dalam percobaannya, Miller telah memasukkan mekanisme yang disesuaikan dengan tujuannya. Nyatanya, dengan percobaan ini, ia sendiri malah menggugurkan anggapan evolusionis bahwa asam amino dapat terbentuk dengan sendirinya secara kebetulan pada kondisi alamiah.
Berbagai penemuan berikutnya yang terjadi dalam tahun 1970-an, yang dikenal sebagai "percobaan atmosfir bumi purba", menggugurkan upaya evolusionis tersebut. Terungkap bahwa "model atmosfir bumi purba, yang didasarkan pada gas metana-amonia" sebagaimana dikemukakan Miller dan para evolusionis lain, diketahui telah keliru sama sekali. Miller memilih gas ini dengan sengaja karena kemudahan dan kecocokannya bagi pembentukan asam amino. Akan tetapi, berbagai penemuan ilmiah menunjukkan atmosfir bumi purba terdiri atas nitrogen, karbon dioksida dan uap air. Model atmosfir seperti ini tidak cocok bagi pembentukan asam amino. Terlebih lagi diketahui, oksigen dalam jumlah besar tersedia secara alami pada atmosfir bumi purba. Hal ini sekaligus menggugurkan skenario evolusionis, sebab oksigen bebas jelas akan menguraikan asam-asam amino yang terbentuk.
Miller menyatakan ia telah berhasil meniru kondisi atmosfir bumi purba dalam percobaan-nya. Kenyataannya, udara yang digunakan Miller dalam percobaannya jauh berbeda dengan kondisi bumi purba yang sesungguh-nya. Lebih dari itu, dalam percobaannya, Miller telah memasukkan mekanisme yang disesuaikan dengan tujuannya. Nyatanya, dengan percobaan ini, ia sendiri malah menggugurkan anggapan evolusionis bahwa asam amino dapat terbentuk dengan sendirinya secara kebetulan pada kondisi alamiah.
Berbagai penemuan berikutnya yang terjadi dalam tahun 1970-an, yang dikenal sebagai "percobaan atmosfir bumi purba", menggugurkan upaya evolusionis tersebut. Terungkap bahwa "model atmosfir bumi purba, yang didasarkan pada gas metana-amonia" sebagaimana dikemukakan Miller dan para evolusionis lain, diketahui telah keliru sama sekali. Miller memilih gas ini dengan sengaja karena kemudahan dan kecocokannya bagi pembentukan asam amino. Akan tetapi, berbagai penemuan ilmiah menunjukkan atmosfir bumi purba terdiri atas nitrogen, karbon dioksida dan uap air. Model atmosfir seperti ini tidak cocok bagi pembentukan asam amino. Terlebih lagi diketahui, oksigen dalam jumlah besar tersedia secara alami pada atmosfir bumi purba. Hal ini sekaligus menggugurkan skenario evolusionis, sebab oksigen bebas jelas akan menguraikan asam-asam amino yang terbentuk.
PENGAKUAN
MILLER
Kini, Miller sendiri mengakui bahwa percobaannya pada tahun 1953 masih belum mampu menjelaskan asal-usul kehidupan.
Akibat berbagai penemuan ini, masyarakat ilmuwan pada tahun 1980-an menyatakan percobaan Miller dan "percobaan-percobaan atmosfir bumi purba" lain setelahnya tidak bernilai sama sekali. Setelah lama bungkam, akhirnya Miller pun mengakui medium atmosfir yang ia gunakan tidaklah sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.
Selain itu, semua perdebatan ini baru mengenai "pembentukan asam amino". Bahkan jika asam-asam amino telah terbentuk, mustahil molekul-molekul organik sederhana ini dengan kehendak sendiri mampu membentuk struktur sangat kompleks seperti protein secara kebetulan dan menghasilkan sel hidup yang tidak dapat ditiru sekalipun oleh manusia di laboratorium yang ada saat ini.
Waktu lima puluh tahun yang telah berlalu sejak masa Miller hanya semakin membuktikan keputusasaan yang dialami teori evolusi di tingkat molekuler.
5. Teori Cosmozoa
Ilmuwan paling terkenal yang mencetuskan hal ini adalah Fred Hoyle dan Chandra Wickramasinghe. Keduanya membuat skenario yang isinya menyatakan adanya suatu kekuatan yang “menyemai benih” kehidupan di angkasa. Menurut skenario ini, benih-benih kehidupan tersebut dibawa mengarungi kehampaan angkasa oleh awan-awan gas atau debu, atau mungkin oleh asteroid, dan akhirnya sampai di bumi. Dan makhluk hidup pun dimulai di sini.
Kini, Miller sendiri mengakui bahwa percobaannya pada tahun 1953 masih belum mampu menjelaskan asal-usul kehidupan.
Akibat berbagai penemuan ini, masyarakat ilmuwan pada tahun 1980-an menyatakan percobaan Miller dan "percobaan-percobaan atmosfir bumi purba" lain setelahnya tidak bernilai sama sekali. Setelah lama bungkam, akhirnya Miller pun mengakui medium atmosfir yang ia gunakan tidaklah sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.
Selain itu, semua perdebatan ini baru mengenai "pembentukan asam amino". Bahkan jika asam-asam amino telah terbentuk, mustahil molekul-molekul organik sederhana ini dengan kehendak sendiri mampu membentuk struktur sangat kompleks seperti protein secara kebetulan dan menghasilkan sel hidup yang tidak dapat ditiru sekalipun oleh manusia di laboratorium yang ada saat ini.
Waktu lima puluh tahun yang telah berlalu sejak masa Miller hanya semakin membuktikan keputusasaan yang dialami teori evolusi di tingkat molekuler.
5. Teori Cosmozoa
Ilmuwan paling terkenal yang mencetuskan hal ini adalah Fred Hoyle dan Chandra Wickramasinghe. Keduanya membuat skenario yang isinya menyatakan adanya suatu kekuatan yang “menyemai benih” kehidupan di angkasa. Menurut skenario ini, benih-benih kehidupan tersebut dibawa mengarungi kehampaan angkasa oleh awan-awan gas atau debu, atau mungkin oleh asteroid, dan akhirnya sampai di bumi. Dan makhluk hidup pun dimulai di sini.
Titik-titik
putih adalah Asteroid
Pemenang Hadiah Nobel, Francis Crick, yang bersama James Watson menemukan struktur heliks ganda (pilinan ganda) pada DNA ( DNA (deoxyribonucleic acid) atau asam deoksiribosa nukleat (ADN) merupakan tempat penyimpanan informasi genetik.), adalah salah satu dari mereka yang mencari asal usul makhluk hidup di luar angkasa. Crick sadar bahwa tak mungkin hidup bermula secara kebetulan, tetapi ia menyatakan bahwa kehidupan di bumi dimulai oleh kekuatan cerdas “yang berasal dari angkasa luar”.
Seperti telah kita lihat, gagasan bahwa kehidupan berasal dari luar angkasa telah mempengaruhi ilmuwan-ilmuwan ternama. Masalah ini bahkan dibahas dalam tulisan dan debat tentang asal usul kehidupan. Pada dasarnya, gagasan mengenai pencarian kehidupan di angkasa luar dapat dilihat dari dua sudut pandang.
Pertentangan ilmiah
Kunci pengujian atas pernyataan bahwa “kehidupan bermula di angkasa luar” terletak dalam penelitian meteor-meteor yang mencapai Bumi serta gumpalan gas dan debu di angkasa luar. Hingga saat ini belum ditemukan bukti akan adanya benda angkasa yang mengandung makhluk luar bumi yang akhirnya memulai kehidupan di Bumi. Selain itu, hingga saat ini pun belum ada penelitian yang telah mengungkapkan adanya makromolekul kompleks seperti itu ditemukan dalam mahluk hidup.
Lebih jauh lagi, zat yang terdapat dalam meteorit tidak bersifat asimetris, seperti seharusnya makromolekul yang dimiliki oleh makhluk hidup.
Misalnya, secara teoritis, asam amino (bahan dasar penyusun protein; protein adalah bahan dasar penyusun makhluk hidup) bentuk levo dan dekstro (“isomer optis”) seharusnya terdapat dalam jumlah yang kurang-lebih setara. Akan tetapi, dalam protein, hanya terdapat asam amino levo. Distribusi yang asimetris ini tidak terdapat dalam molekul organik kecil (molekul berdasar karbon yang terdapat pada makhluk hidup) yang ditemukan dalam meteorit. Yang terakhir ini terdapat dalam bentuk levo dan dekstro.
Hal ini bukanlah hambatan terakhir bagi pernyataan bahwa zat dan benda luar angkasa lah yang memulai kehidupan di Bumi. Mereka yang setuju dengan pendapat ini harus mampu menjelaskan, mengapa proses seperti itu tidak terjadi di masa sekarang, padahal Bumi masih dihujani berbagai meteorit hingga saat ini. Kajian atas meteorit tersebut tidak mengungkapkan “penyemaian benih” apa pun yang dapat mendukung pendapat ini.
Pertanyaan lainnya adalah: kalaupun memang makhluk hidup dibentuk oleh sebuah kecerdasan di angkasa luar, yang lalu tiba di Bumi, lalu bagaimana cara terbentuknya jutaan spesies di Bumi. Inilah permasalahan besar yang harus dihadapi oleh pendapat ini.
Di samping semua kendala tadi, di alam semesta ini belum pernah ditemukan jejak peradaban atau makhluk hidup, yang kemungkinan telah memulai kehidupan di Bumi. Bahkan pengamatan di bidang astronomi, yang telah mengalami kemajuan sangat pesat selama 30 tahun terakhir ini, tidak memberikan petunjuk apa pun tentang adanya peradaban seperti itu.
6. Teori Penciptaan
Teori ini menyatakan bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Tuhan. segala spesies makhluk hidup yg sekarang sudah ada sejak dahulu dan diciptakan sendiri-sendiri sebagaimana adanya saat ini. Teori ini tentunya dianut oleh para orang-orang yang beriman kepada Tuhan dan sepertinya kurang sejalan dengan teori-teori yg lain.
C. Dimanakah Usur Kehidupan Pertamakali Timbul
Pemenang Hadiah Nobel, Francis Crick, yang bersama James Watson menemukan struktur heliks ganda (pilinan ganda) pada DNA ( DNA (deoxyribonucleic acid) atau asam deoksiribosa nukleat (ADN) merupakan tempat penyimpanan informasi genetik.), adalah salah satu dari mereka yang mencari asal usul makhluk hidup di luar angkasa. Crick sadar bahwa tak mungkin hidup bermula secara kebetulan, tetapi ia menyatakan bahwa kehidupan di bumi dimulai oleh kekuatan cerdas “yang berasal dari angkasa luar”.
Seperti telah kita lihat, gagasan bahwa kehidupan berasal dari luar angkasa telah mempengaruhi ilmuwan-ilmuwan ternama. Masalah ini bahkan dibahas dalam tulisan dan debat tentang asal usul kehidupan. Pada dasarnya, gagasan mengenai pencarian kehidupan di angkasa luar dapat dilihat dari dua sudut pandang.
Pertentangan ilmiah
Kunci pengujian atas pernyataan bahwa “kehidupan bermula di angkasa luar” terletak dalam penelitian meteor-meteor yang mencapai Bumi serta gumpalan gas dan debu di angkasa luar. Hingga saat ini belum ditemukan bukti akan adanya benda angkasa yang mengandung makhluk luar bumi yang akhirnya memulai kehidupan di Bumi. Selain itu, hingga saat ini pun belum ada penelitian yang telah mengungkapkan adanya makromolekul kompleks seperti itu ditemukan dalam mahluk hidup.
Lebih jauh lagi, zat yang terdapat dalam meteorit tidak bersifat asimetris, seperti seharusnya makromolekul yang dimiliki oleh makhluk hidup.
Misalnya, secara teoritis, asam amino (bahan dasar penyusun protein; protein adalah bahan dasar penyusun makhluk hidup) bentuk levo dan dekstro (“isomer optis”) seharusnya terdapat dalam jumlah yang kurang-lebih setara. Akan tetapi, dalam protein, hanya terdapat asam amino levo. Distribusi yang asimetris ini tidak terdapat dalam molekul organik kecil (molekul berdasar karbon yang terdapat pada makhluk hidup) yang ditemukan dalam meteorit. Yang terakhir ini terdapat dalam bentuk levo dan dekstro.
Hal ini bukanlah hambatan terakhir bagi pernyataan bahwa zat dan benda luar angkasa lah yang memulai kehidupan di Bumi. Mereka yang setuju dengan pendapat ini harus mampu menjelaskan, mengapa proses seperti itu tidak terjadi di masa sekarang, padahal Bumi masih dihujani berbagai meteorit hingga saat ini. Kajian atas meteorit tersebut tidak mengungkapkan “penyemaian benih” apa pun yang dapat mendukung pendapat ini.
Pertanyaan lainnya adalah: kalaupun memang makhluk hidup dibentuk oleh sebuah kecerdasan di angkasa luar, yang lalu tiba di Bumi, lalu bagaimana cara terbentuknya jutaan spesies di Bumi. Inilah permasalahan besar yang harus dihadapi oleh pendapat ini.
Di samping semua kendala tadi, di alam semesta ini belum pernah ditemukan jejak peradaban atau makhluk hidup, yang kemungkinan telah memulai kehidupan di Bumi. Bahkan pengamatan di bidang astronomi, yang telah mengalami kemajuan sangat pesat selama 30 tahun terakhir ini, tidak memberikan petunjuk apa pun tentang adanya peradaban seperti itu.
6. Teori Penciptaan
Teori ini menyatakan bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Tuhan. segala spesies makhluk hidup yg sekarang sudah ada sejak dahulu dan diciptakan sendiri-sendiri sebagaimana adanya saat ini. Teori ini tentunya dianut oleh para orang-orang yang beriman kepada Tuhan dan sepertinya kurang sejalan dengan teori-teori yg lain.
C. Dimanakah Usur Kehidupan Pertamakali Timbul
Apa
yang muncul dalam benak anda jika ketika sedang berjalan di tengah hutan
belantara, tiba- tiba anda menemukan mobil dengan model terbaru di antara
pepohonan akankah anda berpikir beragam bahan baku di dalam hutan tersebut
telah berdatangan dengan sendirinya dan saling bergabung secara kebetulan
selama jutaan tahun dan kemudian membentuk mobil tersebut Semua bahan baku
pembentuk mobil berasal dari besi, plastik, karet, atau produk sampingnya,
tetapi akankah fakta ini membuat anda berpikir bahwa bahan-bahan ini telah
berkumpul menjadi satu "secara kebetulan" dan dengan sendirinya
membentuk sebuah mobil
Tidak diragukan lagi, manusia berakal sehat akan meyakini mobil tersebut sebagai hasil suatu rancangan cerdas, dengan kata lain ini adalah buatan pabrik, dan ia pun akan bertanya-tanya mengapa ada mobil di tengah hutan. Kemunculan secara tiba-tiba suatu rancangan rumit dalam bentuknya yang telah lengkap dari sebuah ketiadaan menunjukkan bahwa rancangan ini telah dibuat oleh sesuatu yang memiliki kecerdasan luar biasa. Contoh tentang mobil di atas juga berlaku bagi makhluk hidup. Nyatanya, rancangan pada makhluk hidup terlalu sempurna dibandingkan dengan yang ada pada mobil. Sel, satuan terkecil pembentuk kehidupan, ternyata jauh lebih rumit dari produk teknologi buatan manusia. Lebih jauh lagi, organisme rumit yang tak dapat disederhanakan ini pasti telah terbentuk secara tiba-tiba dan dalam keadaan telah lengkap ( Untuk informasi lebih lenkap baca buku Menyibak Tabir Evolusi karya: Harun Yahya ).
Tidak diragukan lagi, manusia berakal sehat akan meyakini mobil tersebut sebagai hasil suatu rancangan cerdas, dengan kata lain ini adalah buatan pabrik, dan ia pun akan bertanya-tanya mengapa ada mobil di tengah hutan. Kemunculan secara tiba-tiba suatu rancangan rumit dalam bentuknya yang telah lengkap dari sebuah ketiadaan menunjukkan bahwa rancangan ini telah dibuat oleh sesuatu yang memiliki kecerdasan luar biasa. Contoh tentang mobil di atas juga berlaku bagi makhluk hidup. Nyatanya, rancangan pada makhluk hidup terlalu sempurna dibandingkan dengan yang ada pada mobil. Sel, satuan terkecil pembentuk kehidupan, ternyata jauh lebih rumit dari produk teknologi buatan manusia. Lebih jauh lagi, organisme rumit yang tak dapat disederhanakan ini pasti telah terbentuk secara tiba-tiba dan dalam keadaan telah lengkap ( Untuk informasi lebih lenkap baca buku Menyibak Tabir Evolusi karya: Harun Yahya ).
Berbagai
contoh struktur yang rumit dalam sel: Kanan, ribosom, tempat berlangsungnya
pembuatan protein dalam sel. Kiri, sebuah nukleosom, yang membungkus
satuan-satuan DNA dalam kromosom. Di dalam sel terdapat banyak sistem dan
struktur yang rumit seperti ini, bahkan yang lebih kompleks lagi. Pengetahuan
bahwa struktur yang demikian kompleks itu - yang semakin terungkap seiring
dengan kemajuan teknologi - tidak mungkin terbentuk secara kebetulan, telah
menempatkan para evolusionis dalam kesulitan yang takkan dapat mereka pecahkan.
Rekaman fosil mungkin merupakan petunjuk terpenting yang meruntuhkan pernyataan-pernyataan teori evolusi. Fosil-fosil mengungkapkan bahwa bentuk-bentuk kehidupan di Bumi tidak pernah mengalami bahkan secuil pun perubahan dan tidak pernah saling berkembang ke satu sama lain. Dengan meneliti rekaman fosil, kita mengetahui bahwa mahluk-mahluk hidup saat ini persis sama dengan mahluk-mahluk hidup jutaan tahun silam-dengan kata lain, mereka tidak pernah mengalami evolusi. Bahkan selama zaman-zaman paling kuno, bentuk-bentuk kehidupan muncul mendadak beserta segenap struktur rumitnya-dengan ciri-ciri sempurna dan unggul, sebagaimana keturunannya hari ini. Ini menunjukkan satu fakta tak terbantahkan. Mahluk-mahluk hidup tidak muncul lewat proses khayali evolusi. Semua mahluk hidup yang pernah ada di Bumi diciptakan oleh Tuhan. Fakta penciptaan ini tersingkap sekali lagi dalam jejak-jejak yang ditinggalkan oleh mahluk-mahluk hidup yang tanpa cela. Kami akan memberikan bukan hanya informasi tentang apa itu fosil dan di mana serta bagaimana ditemukan, namun juga penelitian lebih dalam beragam spesimen fosil yang jutaan tahun umurnya dan tetap mampu menyerukan, “Kami tidak pernah mengalami evolusi; kami diciptakan. ” Fosil-fosil yang dibahas dan diuraikan di makalah ini hanya sebagian kecil contoh dari ratusan juta spesimen yang membuktikan fakta penciptaan. Dan bahkan sedikit contoh ini sudah cukup membuktikan bahwa teori evolusi itu kebohongan dan tipuan besar dalam sejarah ilmu pengetahuan.
1. Apakah Fosil itu
Rekaman fosil mungkin merupakan petunjuk terpenting yang meruntuhkan pernyataan-pernyataan teori evolusi. Fosil-fosil mengungkapkan bahwa bentuk-bentuk kehidupan di Bumi tidak pernah mengalami bahkan secuil pun perubahan dan tidak pernah saling berkembang ke satu sama lain. Dengan meneliti rekaman fosil, kita mengetahui bahwa mahluk-mahluk hidup saat ini persis sama dengan mahluk-mahluk hidup jutaan tahun silam-dengan kata lain, mereka tidak pernah mengalami evolusi. Bahkan selama zaman-zaman paling kuno, bentuk-bentuk kehidupan muncul mendadak beserta segenap struktur rumitnya-dengan ciri-ciri sempurna dan unggul, sebagaimana keturunannya hari ini. Ini menunjukkan satu fakta tak terbantahkan. Mahluk-mahluk hidup tidak muncul lewat proses khayali evolusi. Semua mahluk hidup yang pernah ada di Bumi diciptakan oleh Tuhan. Fakta penciptaan ini tersingkap sekali lagi dalam jejak-jejak yang ditinggalkan oleh mahluk-mahluk hidup yang tanpa cela. Kami akan memberikan bukan hanya informasi tentang apa itu fosil dan di mana serta bagaimana ditemukan, namun juga penelitian lebih dalam beragam spesimen fosil yang jutaan tahun umurnya dan tetap mampu menyerukan, “Kami tidak pernah mengalami evolusi; kami diciptakan. ” Fosil-fosil yang dibahas dan diuraikan di makalah ini hanya sebagian kecil contoh dari ratusan juta spesimen yang membuktikan fakta penciptaan. Dan bahkan sedikit contoh ini sudah cukup membuktikan bahwa teori evolusi itu kebohongan dan tipuan besar dalam sejarah ilmu pengetahuan.
1. Apakah Fosil itu
FOSIL
KODOK BERUMUR 50 JUTA TAHUN
Tidak ada perbedaan antara
kodok ini, yang hidup 50
juta tahun silam, dan yang
hidup hari ini.
Menurut definisi terluasnya, fosil adalah sisa mahluk hidup yang hidup dulu sekali dan masih ada hingga hari ini karena terawetkan oleh keadaan alam. Fosil-fosil yang sampai kepada kita adalah bagian-bagian tubuh suatu organisme, atau sisa-sisa yang ditinggalkan saat mahluk hidup terkait masih hidup (yang terakhir ini disebut fosil jejak). Fosil terbentuk ketika binatang atau tumbuhan mati terawetkan sebelum sempat membusuk sempurna, lalu menjadi bagian dari batuan endapan Bumi. Agar proses pemfosilan berlangsung, binatang atau tumbuhan harus cepat-cepat terkubur-biasanya dengan cara dibungkus lapisan lempung. Secara umum, hal itu diikuti oleh proses kimiawi, dengan mana pengawetan terjamin lewat cara perubahan mineral yang terjadi pada jaringan-jaringan asli.
Fosil adalah petunjuk terpenting rincian kehidupan prasejarah. Dari berbagai kawasan dunia, ratusan juta fosil telah diperoleh dan semuanya memberikan sebuah jendela untuk melihat sejarah dan struktur kehidupan di Bumi. Jutaan fosil menandakan bahwa spesies-spesies muncul mendadak, terbentuk sempurna dan beserta struktur rumitnya, dan tidak mengalami perubahan apapun selama jutaan tahun setelah itu. Inilah bukti penting bahwa kehidupan dimunculkan dari ketiadaan-dengan kata lain, kehidupan itu diciptakan. Spesimen-spesimen fosil yang dinyatakan para evolusionis sebagai “fosil antara” sedikit jumlahnya dan ketidaksahihannya telah dibuktikan secara ilmiah. Pada saat yang sama, sebagian spesimen yang digambarkan sebagai fosil antara telah terungkap sebagai pemalsuan, menunjukkan bahwa para evolusionis demikian berputus asa sampai-sampai berpaling ke penipuan.
Tidak ada perbedaan antara
kodok ini, yang hidup 50
juta tahun silam, dan yang
hidup hari ini.
Menurut definisi terluasnya, fosil adalah sisa mahluk hidup yang hidup dulu sekali dan masih ada hingga hari ini karena terawetkan oleh keadaan alam. Fosil-fosil yang sampai kepada kita adalah bagian-bagian tubuh suatu organisme, atau sisa-sisa yang ditinggalkan saat mahluk hidup terkait masih hidup (yang terakhir ini disebut fosil jejak). Fosil terbentuk ketika binatang atau tumbuhan mati terawetkan sebelum sempat membusuk sempurna, lalu menjadi bagian dari batuan endapan Bumi. Agar proses pemfosilan berlangsung, binatang atau tumbuhan harus cepat-cepat terkubur-biasanya dengan cara dibungkus lapisan lempung. Secara umum, hal itu diikuti oleh proses kimiawi, dengan mana pengawetan terjamin lewat cara perubahan mineral yang terjadi pada jaringan-jaringan asli.
Fosil adalah petunjuk terpenting rincian kehidupan prasejarah. Dari berbagai kawasan dunia, ratusan juta fosil telah diperoleh dan semuanya memberikan sebuah jendela untuk melihat sejarah dan struktur kehidupan di Bumi. Jutaan fosil menandakan bahwa spesies-spesies muncul mendadak, terbentuk sempurna dan beserta struktur rumitnya, dan tidak mengalami perubahan apapun selama jutaan tahun setelah itu. Inilah bukti penting bahwa kehidupan dimunculkan dari ketiadaan-dengan kata lain, kehidupan itu diciptakan. Spesimen-spesimen fosil yang dinyatakan para evolusionis sebagai “fosil antara” sedikit jumlahnya dan ketidaksahihannya telah dibuktikan secara ilmiah. Pada saat yang sama, sebagian spesimen yang digambarkan sebagai fosil antara telah terungkap sebagai pemalsuan, menunjukkan bahwa para evolusionis demikian berputus asa sampai-sampai berpaling ke penipuan.
Fosil
kepiting yang hidup antara 38 dan
23 juta tahun silam.
Selama 150 tahun terakhir atau lebih, fosil-fosil hasil penggalian yang dilakukan di seluruh dunia membuktikan bahwa ikan itu selalu dulunya ikan, serangga itu selalu dulunya serangga, burung selalu burung, dan reptil selalu reptil. Tidak satu fosil pun yang menunjukkan suatu peralihan di antara spesies-spesies mahluk hidup-misalnya, dari ikan ke amfibi, atau dari reptil ke burung. Pendeknya, rekaman fosil telak-telak menghancurkan pernyataan dasar teori evolusi bahwa spesies-spesies turun dari satu sama lain melalui perubahan-perubahan selama masa waktu yang panjang.
Di samping informasi tentang bentuk kehidupan, fosil juga memberikan data penting tentang sejarah planet, seperti cara gerakan lempeng benua mengubah permukaan Bumi dan jenis perubahan iklim yang terjadi di masa silam.
Fosil telah menarik minat para peneliti sejak zaman Yunani Kuno, walau penelitian fosil sebagai cabang ilmu tersendiri baru dimulai di pertengahan abad ke-17. Ini diikuti oleh karya-karya peneliti Robert Hooke (pengarang Micrographia di tahun 1665 dan Discource of Earthquakes di tahun 1668) dan Niels Stensen (yang lebih terkenal sebagai Nicolai Steno). Pada saat Hooke dan Steno melakukan penyelidikan mereka, kebanyakan pemikir tidak memercayai bahwa fosil sebenarnya sisa mahluk hidup yang pernah hadir di masa lalu. Di tengah perdebatan tentang apakah fosil itu benar-benar sisa mahluk hidup ada ketakmampuan menjelaskan letak fosil ditemukan secara geologis. Fosil sering ditemukan di daerah pegunungan, dan pada saat itu, mustahil menjelaskan cara seekor ikan, misalnya, memfosil di lapisan batuan yang demikian tinggi dari permukaan laut. Sebagaimana pernah disarankan oleh Leonardo Da Vinci, Steno bersikukuh bahwa permukaan laut telah menurun selama perjalanan sejarah. Hooke, di sisi lain, mengatakan bahwa pegunungan terbentuk sebagai akibat pemanasan di dalam Bumi dan gempa di lempeng-lempeng benua.
23 juta tahun silam.
Selama 150 tahun terakhir atau lebih, fosil-fosil hasil penggalian yang dilakukan di seluruh dunia membuktikan bahwa ikan itu selalu dulunya ikan, serangga itu selalu dulunya serangga, burung selalu burung, dan reptil selalu reptil. Tidak satu fosil pun yang menunjukkan suatu peralihan di antara spesies-spesies mahluk hidup-misalnya, dari ikan ke amfibi, atau dari reptil ke burung. Pendeknya, rekaman fosil telak-telak menghancurkan pernyataan dasar teori evolusi bahwa spesies-spesies turun dari satu sama lain melalui perubahan-perubahan selama masa waktu yang panjang.
Di samping informasi tentang bentuk kehidupan, fosil juga memberikan data penting tentang sejarah planet, seperti cara gerakan lempeng benua mengubah permukaan Bumi dan jenis perubahan iklim yang terjadi di masa silam.
Fosil telah menarik minat para peneliti sejak zaman Yunani Kuno, walau penelitian fosil sebagai cabang ilmu tersendiri baru dimulai di pertengahan abad ke-17. Ini diikuti oleh karya-karya peneliti Robert Hooke (pengarang Micrographia di tahun 1665 dan Discource of Earthquakes di tahun 1668) dan Niels Stensen (yang lebih terkenal sebagai Nicolai Steno). Pada saat Hooke dan Steno melakukan penyelidikan mereka, kebanyakan pemikir tidak memercayai bahwa fosil sebenarnya sisa mahluk hidup yang pernah hadir di masa lalu. Di tengah perdebatan tentang apakah fosil itu benar-benar sisa mahluk hidup ada ketakmampuan menjelaskan letak fosil ditemukan secara geologis. Fosil sering ditemukan di daerah pegunungan, dan pada saat itu, mustahil menjelaskan cara seekor ikan, misalnya, memfosil di lapisan batuan yang demikian tinggi dari permukaan laut. Sebagaimana pernah disarankan oleh Leonardo Da Vinci, Steno bersikukuh bahwa permukaan laut telah menurun selama perjalanan sejarah. Hooke, di sisi lain, mengatakan bahwa pegunungan terbentuk sebagai akibat pemanasan di dalam Bumi dan gempa di lempeng-lempeng benua.
Seorang peneliti fosil sedang bekerja di
Formasi Ediacara
di Australia.
Setelah uraian-uraian Hooke dan Steno, yang menjelaskan bahwa fosil sebenarnya adalah sisa mahluk hidup yang hidup di masa lampau, geologi berkembang selama abad ke-18 dan 19, lalu pengumpulan dan penelitian fosil mulai berubah menjadi sebuah cabang ilmu pengetahuan. Prinsip-prinsip yang diletakkan Steno diikuti dalam pengelompokan dan penafsiran fosil. Mulai abad ke-18, perkembangan dunia pertambangan dan meningkatnya pembangunan rel kereta api memungkinkan penyelidikan yang lebih luas dan terinci mengenai apa yang terkubur di bawah permukaan tanah. Geologi modern menyingkapkan bahwa kerak Bumi terdiri atas ruas-ruas besar yang disebut dengan “lempeng, ” yang bergerak melintas permukaan bola dunia, mengusung benua dan membentuk samudera. Semakin besar gerakan lempeng, semakin banyak perubahan dalam geografi Bumi. Untaian pegunungan adalah hasil tumbukan antara lempeng-lempeng raksasa. Perubahan dan tonjolan dalam geografi Bumi yang terjadi selama jangka waktu yang panjang juga menunjukkan bahwa lapisan-lapisan yang saat ini menyusun bagian-bagian pegunungan suatu saat berada di bawah permukaan air.
di Australia.
Setelah uraian-uraian Hooke dan Steno, yang menjelaskan bahwa fosil sebenarnya adalah sisa mahluk hidup yang hidup di masa lampau, geologi berkembang selama abad ke-18 dan 19, lalu pengumpulan dan penelitian fosil mulai berubah menjadi sebuah cabang ilmu pengetahuan. Prinsip-prinsip yang diletakkan Steno diikuti dalam pengelompokan dan penafsiran fosil. Mulai abad ke-18, perkembangan dunia pertambangan dan meningkatnya pembangunan rel kereta api memungkinkan penyelidikan yang lebih luas dan terinci mengenai apa yang terkubur di bawah permukaan tanah. Geologi modern menyingkapkan bahwa kerak Bumi terdiri atas ruas-ruas besar yang disebut dengan “lempeng, ” yang bergerak melintas permukaan bola dunia, mengusung benua dan membentuk samudera. Semakin besar gerakan lempeng, semakin banyak perubahan dalam geografi Bumi. Untaian pegunungan adalah hasil tumbukan antara lempeng-lempeng raksasa. Perubahan dan tonjolan dalam geografi Bumi yang terjadi selama jangka waktu yang panjang juga menunjukkan bahwa lapisan-lapisan yang saat ini menyusun bagian-bagian pegunungan suatu saat berada di bawah permukaan air.
PAKIS
Umur: 286 hingga 360 juta tahun
Ukuran: 13 cm x 10 cm (5,1 inci x 3,9 inci)
Lokasi: Canales, Leon,Spanyol Zaman: Karbon
Pakis yang hidup 286 hingga 360 juta tahun silam sama dengan spesimen hidup masa kini. Tumbuhan ini tetap sama selama jutaan tahun, mengungkapkan fakta tak terbantahkan tentang penciptaan Allah.
Umur: 286 hingga 360 juta tahun
Ukuran: 13 cm x 10 cm (5,1 inci x 3,9 inci)
Lokasi: Canales, Leon,Spanyol Zaman: Karbon
Pakis yang hidup 286 hingga 360 juta tahun silam sama dengan spesimen hidup masa kini. Tumbuhan ini tetap sama selama jutaan tahun, mengungkapkan fakta tak terbantahkan tentang penciptaan Allah.
Bintang
laut berumur antara 443 dan 490 tahun ini
mengungkapkan bahwa bintang laut tetap sama selama ratusan juta tahun dan tidak berevolusi.
mengungkapkan bahwa bintang laut tetap sama selama ratusan juta tahun dan tidak berevolusi.
SEMUT
BERSAYAP YANG HIDUP ANTARA 20 HINGGA 15 JUTA TAHUN SILAM
Fosil-fosil yang terperangkap dalam damar oleh pengerasan getah juga membantah teorievolusi.
Fosil-fosil yang terperangkap dalam damar oleh pengerasan getah juga membantah teorievolusi.
Udang
yang hidup 250 juta dan 70 juta tahun silam sama dengan yang hidup di zaman
kita. Udang yang tetap tak berubah selama jutaan tahun menunjukkan bahwa
evolusi tidak pernah terjadi.
TENGKORAK
PANDA
Umur: 88 juta tahun
Zaman: Kretaseus
Lokasi: China
Rekaman fosil telah membuktikan bahwa panda selalu ada sebagai panda dan tidak pernahmengalami evolusi apapun. Salah satu potongan petunjuk itu adalah fosil tengkorak pandaberumur 88 juta tahun dalam foto ini. Tidak ada panda pernah hidup untuk berkata kepada dirinya sendiri, “Saya kadang-kadang dapat berdiri di atas dua kaki; jadi, mengapa saya tidak selalu berjalan di atas dua kaki?” dan lalu mulai mengubah struktur rangkanya. Panda selalu tetap persis panda, bersama semua sifat yang masih mereka miliki, sekalipun berlalu puluhan juta tahun waktu. Fakta tentang panda ini juga berlaku pada semua bentuk kehidupan lainnya. Tidak adamahluk hidup pernah mengalami suatu proses evolusi atau mengalami alihrupa apapun.
Umur: 88 juta tahun
Zaman: Kretaseus
Lokasi: China
Rekaman fosil telah membuktikan bahwa panda selalu ada sebagai panda dan tidak pernahmengalami evolusi apapun. Salah satu potongan petunjuk itu adalah fosil tengkorak pandaberumur 88 juta tahun dalam foto ini. Tidak ada panda pernah hidup untuk berkata kepada dirinya sendiri, “Saya kadang-kadang dapat berdiri di atas dua kaki; jadi, mengapa saya tidak selalu berjalan di atas dua kaki?” dan lalu mulai mengubah struktur rangkanya. Panda selalu tetap persis panda, bersama semua sifat yang masih mereka miliki, sekalipun berlalu puluhan juta tahun waktu. Fakta tentang panda ini juga berlaku pada semua bentuk kehidupan lainnya. Tidak adamahluk hidup pernah mengalami suatu proses evolusi atau mengalami alihrupa apapun.
1-Dalam
foto adalah seekor trilobit yang hidup di zaman Ordovisi (490 hingga 443 juta
tahun silam) dan seekor gastopoda dari zaman Silur (443 hingga 417 juta tahun
silam). Dari fosil-fosil ini, kita dapat menduga bahwa lapisan batuan tempatnya
berada berumur kirakira 442 hingga 448 juta tahun.
2-Fosil-fosil yang digunakan untuk menentukan tanggal formasi batuan disebut fosil indeks. Sebagian besar spesies ini adalah yang hidup hanya di zaman tertentu, tersebar luas dan mudah dikenali.
Lewat cara inilah fosil-fosil yang terlihat dalam lapisan batu tampil sebagai salah satu cara utama mendapatkan informasi tentang beraneka zaman sejarah Bumi. Informasi geologis menunjukkan bahwa sisa-sisa mahluk hidup yang setelah mati terawetkan dalam endapan -alias fosil-muncul di lapisan batu yang tergelar selama masa waktu yang sangat panjang. Sebagian batuan tempat fosil ditemukan berasal dari masa ratusan juta tahun.
Selama kajian-kajian itu, teramati juga bahwa spesies fosil tertentu hanya ditemukan di lapisan dan jenis tertentu batuan. Lapisan batuan yang berurutan tampak mengandung kelompok khas fosil yang boleh dianggap sebagai “tandatangan” bagi lapisan itu. “Fosil tandatangan” ini dapat beragam; sesuai dengan waktu, zaman, atau daerah. Misalnya, dua keadaan lingkungan dan jenis endapan yang berbeda-ambil contoh dasar danau kuno dan gugus karang-dapat ditemukan di lapisan penyimpan fosil yang sama yang berasal dari zaman geologi yang sama. Sebaliknya, orang dapat menemukan fosil “tandatangan" yang sama pada dua lapisan batuan yang terpisah berkilo-kilometer jauhnya. Dari informasi yang disampaikan oleh sisa-sisa ini, para ilmuwan menentukan kerangka waktu zaman geologi yang masih kita pakai hari ini.
2-Fosil-fosil yang digunakan untuk menentukan tanggal formasi batuan disebut fosil indeks. Sebagian besar spesies ini adalah yang hidup hanya di zaman tertentu, tersebar luas dan mudah dikenali.
Lewat cara inilah fosil-fosil yang terlihat dalam lapisan batu tampil sebagai salah satu cara utama mendapatkan informasi tentang beraneka zaman sejarah Bumi. Informasi geologis menunjukkan bahwa sisa-sisa mahluk hidup yang setelah mati terawetkan dalam endapan -alias fosil-muncul di lapisan batu yang tergelar selama masa waktu yang sangat panjang. Sebagian batuan tempat fosil ditemukan berasal dari masa ratusan juta tahun.
Selama kajian-kajian itu, teramati juga bahwa spesies fosil tertentu hanya ditemukan di lapisan dan jenis tertentu batuan. Lapisan batuan yang berurutan tampak mengandung kelompok khas fosil yang boleh dianggap sebagai “tandatangan” bagi lapisan itu. “Fosil tandatangan” ini dapat beragam; sesuai dengan waktu, zaman, atau daerah. Misalnya, dua keadaan lingkungan dan jenis endapan yang berbeda-ambil contoh dasar danau kuno dan gugus karang-dapat ditemukan di lapisan penyimpan fosil yang sama yang berasal dari zaman geologi yang sama. Sebaliknya, orang dapat menemukan fosil “tandatangan" yang sama pada dua lapisan batuan yang terpisah berkilo-kilometer jauhnya. Dari informasi yang disampaikan oleh sisa-sisa ini, para ilmuwan menentukan kerangka waktu zaman geologi yang masih kita pakai hari ini.
Kadang-kadang,
organisme-organisme rapuh juga membatu dalam keadaan-keadaan luar biasa. Dalam
foto adalah bintang laut dari Zaman Jura (206 hingga 144 juta tahun silam).
Tidak ada perbedaan apapun antara fosil ini dan bintang laut di zaman kita.
Fosil
seekor mimi berumur 450 juta tahun, tidak berbeda dengan mimi dari
zaman kita.
zaman kita.
Kadal
tuatara dari 200 juta tahun lalu, dan kadal yang sama yang hidup hari ini.
DAUN
ANGGUR
Umur: 23 hingga 38 juta tahun
Ukuran: 6,6 cm (2,6 inci) termasuk ranting
Lokasi: Beaverhead County, Montana
Formasi: Muddy Creek
Zaman: Oligosen
Fosil daun anggur berumur 23-38 juta tahun juga membenarkan bahwa tetumbuhan tidak pernah berevolusi, melainkan diciptakan.
Umur: 23 hingga 38 juta tahun
Ukuran: 6,6 cm (2,6 inci) termasuk ranting
Lokasi: Beaverhead County, Montana
Formasi: Muddy Creek
Zaman: Oligosen
Fosil daun anggur berumur 23-38 juta tahun juga membenarkan bahwa tetumbuhan tidak pernah berevolusi, melainkan diciptakan.
DAUN
PINUS PONDEROSA
Umur: 15 juta tahun
Lokasi: Stewart Springs Flora,
Stewart Valley, Nevada
Formasi: Sungai Hijau
Zaman: Miosen
Daun jarum pinus dalam foto berumur 15 juta tahun. Daun pinus 15 juta tahun silam dan daun pinus hari ini sama. Fakta bahwa pinus tetap sama sekalipun jutaan tahun telah berlalu sekali lagi membuktikan bahwa evolusi tidak pernah berlangsung.
2. Berapakah Usia Umat Manusia di Bumi ini
Umur: 15 juta tahun
Lokasi: Stewart Springs Flora,
Stewart Valley, Nevada
Formasi: Sungai Hijau
Zaman: Miosen
Daun jarum pinus dalam foto berumur 15 juta tahun. Daun pinus 15 juta tahun silam dan daun pinus hari ini sama. Fakta bahwa pinus tetap sama sekalipun jutaan tahun telah berlalu sekali lagi membuktikan bahwa evolusi tidak pernah berlangsung.
2. Berapakah Usia Umat Manusia di Bumi ini
Jejak
kaki manusia berusia 3,6 juta tahun
yang ditemukan di Laetoli, Tanzania
Untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan kapan manusia pertama kali muncul di Bumi, kita harus meninjau kembali catatan fosil. Catatan ini menunjukkan bahwa umat manusia di bumi sudah berusia jutaan tahun. Penemuan ini terdiri atas kerangka dan tengkorak kepala manusia, dan jejak peninggalan berbagai bangsa yang hidup di zaman yang berbeda. Salah satu peninggalan manusia tertua adalah "jejak kaki" yang ditemukan oleh ahli paleontologi terkenal, Mary Leakey, tahun 1977 di daerah Laetoli, Tanzania.
Peninggalan ini amat menghebohkan dunia ilmiah. Menurut riset, usia lapisan tempat jejak kaki ini ditemukan adalah 3,6 juta tahun. Russell Tuttle, yang menyaksikan jejak kaki itu, menulis:
Jejak kaki itu mungkin berasal dari seorang Homo sapiens yang bertubuh kecil, tanpa alas kaki… Ciri morfologis yang dapat dikenali pada kaki makhluk yang meninggalkan jejak tersebut tak bisa dibedakan dengan kaki manusia modern.
Penelitian objektif atas jejak kaki itu mengungkapkan pemilik kaki yang sebenarnya. Dua puluh buah tapak kaki itu, yang sudah menjadi fosil, berasal dari manusia modern yang berusia 10 tahun, dan 27 buah tapak kaki lainnya berasal dari manusia yang bahkan lebih muda. Kesimpulan ini dihasilkan oleh ahli paleoantropologi terkenal seperti Don Johnson dan Tim White, yang memeriksa tapak kaki penemuan Mary Leakey. White mengungkapkan pikirannya:
Jangan keliru … tapak kaki itu seperti berasal dari manusia modern. Jika tapak kaki itu tampak di pantai California masa kini, dan anak berusia empat tahun ditanyai tentangnya, ia akan langsung menjawab bahwa ada orang yang lewat di sana. Anak itu tak akan mampu membedakannya dengan ratusan tapak kaki lainnya yang ada di pantai. Anda juga tak akan bisa.
Jejak-jejak kaki ini menyulut sebuah perdebatan penting di kalangan evolusionis. Sebab, bila mereka menerima pendapat bahwa jejak kaki itu berasal dari manusia, artinya khayalan evolusionis tentang proses peralihan dari kera menuju manusia harus gugur. Akan tetapi, di titik ini, pola pikir evolusionis yang dogmatis muncul lagi. Sekali lagi, para ilmuwan evolusionis meninggalkan cara berpikir ilmiah demi membela praduga mereka. Menurut mereka, jejak kaki di Laetoli itu berasal dari makhluk serupa kera. Russell Tuttle, satu di antara para evolusionis yang mempertahankan pernyataan ini, menulis:
Sisa-sisa
pondok batu berusia 1,7 juta tahun.yang ditemukan di Laetoli, Tanzania
Untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan kapan manusia pertama kali muncul di Bumi, kita harus meninjau kembali catatan fosil. Catatan ini menunjukkan bahwa umat manusia di bumi sudah berusia jutaan tahun. Penemuan ini terdiri atas kerangka dan tengkorak kepala manusia, dan jejak peninggalan berbagai bangsa yang hidup di zaman yang berbeda. Salah satu peninggalan manusia tertua adalah "jejak kaki" yang ditemukan oleh ahli paleontologi terkenal, Mary Leakey, tahun 1977 di daerah Laetoli, Tanzania.
Peninggalan ini amat menghebohkan dunia ilmiah. Menurut riset, usia lapisan tempat jejak kaki ini ditemukan adalah 3,6 juta tahun. Russell Tuttle, yang menyaksikan jejak kaki itu, menulis:
Jejak kaki itu mungkin berasal dari seorang Homo sapiens yang bertubuh kecil, tanpa alas kaki… Ciri morfologis yang dapat dikenali pada kaki makhluk yang meninggalkan jejak tersebut tak bisa dibedakan dengan kaki manusia modern.
Penelitian objektif atas jejak kaki itu mengungkapkan pemilik kaki yang sebenarnya. Dua puluh buah tapak kaki itu, yang sudah menjadi fosil, berasal dari manusia modern yang berusia 10 tahun, dan 27 buah tapak kaki lainnya berasal dari manusia yang bahkan lebih muda. Kesimpulan ini dihasilkan oleh ahli paleoantropologi terkenal seperti Don Johnson dan Tim White, yang memeriksa tapak kaki penemuan Mary Leakey. White mengungkapkan pikirannya:
Jangan keliru … tapak kaki itu seperti berasal dari manusia modern. Jika tapak kaki itu tampak di pantai California masa kini, dan anak berusia empat tahun ditanyai tentangnya, ia akan langsung menjawab bahwa ada orang yang lewat di sana. Anak itu tak akan mampu membedakannya dengan ratusan tapak kaki lainnya yang ada di pantai. Anda juga tak akan bisa.
Jejak-jejak kaki ini menyulut sebuah perdebatan penting di kalangan evolusionis. Sebab, bila mereka menerima pendapat bahwa jejak kaki itu berasal dari manusia, artinya khayalan evolusionis tentang proses peralihan dari kera menuju manusia harus gugur. Akan tetapi, di titik ini, pola pikir evolusionis yang dogmatis muncul lagi. Sekali lagi, para ilmuwan evolusionis meninggalkan cara berpikir ilmiah demi membela praduga mereka. Menurut mereka, jejak kaki di Laetoli itu berasal dari makhluk serupa kera. Russell Tuttle, satu di antara para evolusionis yang mempertahankan pernyataan ini, menulis:
Kesimpulannya, jejak kaki berusia 3,5 juta tahun di situs G Laetoli menyerupai jejak manusia modern yang tidak beralas kaki. Tidak ada tanda bahwa hominid Laetoli adalah biped (makhluk yang berjalan di atas dua kaki) yang lebih rendah daripada kita. Jika jejak kaki G itu tidak demikian tua usianya, kita akan mengira bahwa makhluk yang menghasilkannya adalah genus kita, Homo…. Yang pasti, kita akan mengesampingkan anggapan bahwa jejak kaki Laetoli itu berasal dari jenis Lucy, Australopithecus afarensis.
Peninggalan manusia tertua lainnya adalah reruntuhan pondok batu, yang ditemukan oleh Louis Leakey tahun 1970-an di daerah Olduvai Gorge. Reruntuhan pondok itu berada pada lapisan berusia 1,7 juta tahun. Sudah diketahui bahwa struktur bangunan seperti ini, serupa dengan yang masih ada di Afrika masa kini, hanya mampu dihasilkan oleh Homo sapiens, atau dengan kata lain, manusia modern. Yang terungkap dari reruntuhan ini adalah, manusia hidup satu zaman dengan makhluk yang dianggap para evolusionis sebagai makhluk serupa kera, yang mereka anggap nenek moyangnya.
Sebuah tulang rahang manusia berusia 2,3 juta tahun, yang ditemukan di daerah Hadar di Ethiopia, amatlah penting untuk menunjukkan bahwa manusia sudah ada di Bumi jauh lebih lama daripada yang diperkirakan para evolusionis.
Salah satu fosil manusia tertua dan paling sempurna adalah kerangka "Anak Turkana". Fosil berusia 1,6 juta tahun tersebut digambarkan oleh evolusionis Donald Johanson sebagai berikut:
Dia tinggi kurus, bentuk tubuh dan proporsi tungkainya menyerupai bangsa Afrika yang tinggal di sekitar katulistiwa zaman sekarang. Walaupun masih muda, tungkai anak ini hampir sama dengan ukuran rata-rata lelaki dewasa kulit putih di Amerika Utara.
Disimpulkan, itu adalah fosil seorang anak lelaki berusia 12 tahun, yang di masa dewasa akan mencapai tinggi 1,83 m. Alan Walker, ahli paleoantropologi Amerika, berkata bahwa beliau ragu apakah "ahli patologi berkemampuan standar akan mampu membedakan kerangka fosil itu dengan manusia modern." Tentang tengkorak kepala, Walker menulis bahwa beliau tertawa melihatnya, karena "mirip betul dengan manusia Neanderthal."
Satu fosil manusia yang paling menarik perhatian adalah fosil yang ditemukan di Spanyol tahun 1995. Fosil itu ditemukan di sebuah gua bernama Gran Dolina di daerah Atapuerca, Spanyol, oleh tiga ahli paleoantropologi berkebangsaan Spanyol dari Universitas Madrid. Fosil itu berupa anak lelaki berusia 11 tahun yang sepenuhnya mirip manusia modern. Padahal, anak itu meninggal 800.000 tahun silam. Fosil ini mengguncang keyakinan Juan Luis Arsuaga Ferreras, pemimpin penggalian Gran Dolina. Ferreras berkata:
Kami menduga sesuatu yang amat besar, yang luar biasa -kau tahu, sesuatu yang primitif… Kami duga, anak dari masa 800.000 tahun yang silam akan seperti Anak Turkana. Tapi yang kami temukan adalah wajah yang sepenuhnya modern… Bagi saya, ini amat spektakuler - inilah jenis-jenis hal yang mengejutkan kita. Sesuatu yang amat tak terduga seperti itu. Bukan menemukan fosil; menemukan fosil juga tak terduga, dan tak apa-apa. Tapi hal yang paling spektakuler adalah menemukan sesuatu, yang kita duga hanya ada di masa kini, dari masa lalu. Ini semacam menemukan sesuatu seperti - seperti menemukan tape recorder di Gran Dolina. Sangat mengejutkan. Kita tidak mengharapkan menemukan kaset dan tape recorder di zaman Pleistocene Bawah. Menemukan wajah modern dari masa 800.000 tahun silam - adalah hal yang sama. Kami sangat terkejut melihatnya.
Telah kita lihat, penemuan fosil telah mengungkap pernyataan "evolusi manusia" sebagai sebuah dusta. Oleh media tertentu, pernyataan tersebut disajikan seolah itu fakta yang sudah terbukti. Padahal, yang ada cuma teori fiktif. Para ilmuwan evolusionis menerima hal ini, dan mengakui bahwa pernyataan "evolusi manusia" tidak didukung oleh bukti ilmiah.
Misalnya, dengan berkata "Kita muncul tiba-tiba dalam catatan fosil", ahli paleontologi evolusionis C. A. Villie, E. P. Solomon dan P. W. Davis mengakui bahwa manusia muncul seketika, atau dengan kata lain, tanpa nenek moyang evolusioner. Mark Collard dan Bernard Wood, dua ahli antropologi evolusionis terpaksa berkata, "hipotesa filogenetis yang ada tentang evolusi manusia tampaknya sukar dipercaya." dalam tulisan mereka tahun 2000”




























Tidak ada komentar:
Posting Komentar